Risky E. Puspitasari - Pengaruh Tingkat Pengungkapan terhadap Biaya Modal Ekuitas pada Perusahaan LQ 45 yg Terdaftar di BEI Periode 2005

Tugas Akhir / Skripsi Akuntansi
Disusun oleh: Risky E. Puspitasari
Program Sarjana Universitas Airlangga
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi

Intisari:

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tingkat pengungkapan terhadap biaya modal ekuitas dan signifikansi pengaruh tersebut pada perusahaan yang termasuk dalam kategori perusahaan LQ45 pada Bursa Efek Indonesia periode tahun 2005. Sebanyak tiga puluh perusahaan LQ45 yang memenuhi kriteria yang ditetapkan diambil sebagai sample penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil dokumentasi data laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan dari Bursa Efek Indonesia dan diolah dengan menggunakan uji statistik regresi linear sederhana. Perusahaan sample kemudian dibagi dalam dua kategori berdasarkan konsentrasi kepemilikannya untuk menguji apakah terdapat perbedaan tingkat signifikansi pengaruh tingkat pengungkapan terhadap biaya modal ekuitas antara perusahaan pada kedua kategori tersebut. Pengujian adanya perbedaan tingkat signifikansi pada kedua ketegori tersebut akan dilakukan dengan menggunakan Moderated Regression Analysis. Penelitian ini membuktikan tidak ada pengaruh signifikan antara tingkat pengungkapan terhadap biaya modal ekuitas pada perusahaan LQ45 yang dijadikan sampel. Penelitian ini juga membuktikan tidak ada perbedaan pengaruh tingkat pengungkapan terhadap biaya modal ekuitas pada perusahaan dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi maupun rendah (tersebar).

Citra Paramita - Analisis Perbandingan Metode Peramalan Penjualan BBM dengan Standar Kesalahan Peramalan (SKP)

Studi pada PT Pertamina (PERSERO) Region IV Jawa Tengah dan DIY

Tugas Akhir / Skripsi Akuntansi Penjualan
Penulis: Citra Paramita
Program Sarjana Universitas Diponegoro
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Ringkasan:

Perencanaan dan pengawasan diperlukan sebagai salah satu pendukung kegiatan operasional perusahaan. Perusahaan menyusun perencanaan di segala bidang, salah satunya adalah bidang penjualan, misalnya dengan menyusun anggaran penjualan. Anggaran penjualan ialah budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang penjualan perusahaan selama periode yang akan datang, yang di dalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitas) barang yang akan dijual, jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual, harga barang yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualan. Oleh karena itu peramalan penjualan (forecasting) sangat diperlukan dalam penyusunan anggaran penjualan.

Ada beberapa metode yang digunakan dalam peramalan penjualan antara lain metode Trend Bebas, Trend Setengah Rata-rata, Trend Moment, Trend Least Square dan Trend Kuadratik. Efektifitas peramalan penjualan dipengaruhi oleh metode yang digunakan dan faktor-faktor lain yang ada di luar perusahaan, misal keadaan ekonomi negara yang dipengaruhi daya beli masyarakat sebagai konsumen. Pemilihan metode harus disesuaikan dengan keadaan perusahaan, antara lain luas kerja dan banyaknya jenis produk yang dijual. Efektifitas peramalan penjualan dapat diukur dengan suatu Standar Kesalahan Peramalan (SKP), dimana dari perhitungan tersebut dapat diketahui berapa tingkat kesalahan dari metode yang telah digunakan. Semakin kecil tingkat kesalahan peramalan maka metode yang digunakan berarti efektif atau sesuai dengan kondisi perusahaan dan dapat diterapkan dalam perusahaan tersebut.

Bahan bakar minyak (BBM) adalah suatu senyawa organik yang dibutuhkan dalam suatu pembakaran untuk mendapatkan energi/tenaga. Bahan bakar minyak ini merupakan hasil dari proses destilasi minyak bumi (Crude Oil) menjadi fraksi-fraksi yang diinginkan. Bahan bakar minyak mempunyai peran yang sangat penting dalam mendukung pembangunan nasional terutama di sektor industri dan sektor transportasi. PT Pertamina (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi (National Oil Company) dipercaya untuk mengemban tugas dalam mencari sumber minyak dan gas bumi, mengolah dan menyediakan bahan bakar minyak di Indonesia. Namun meskipun begitu, sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang MIGAS baru, sekarang ini PT Pertamina (Persero) tidak lagi menjadi satu-satunya perusahaan yang memonopoli industri minyak dan gas bumi dimana kegiatan usaha minyak dan gas bumi diserahkan kepada mekanisme pasar. Oleh karena itu PT Pertamina (Persero) harus mampu bersaing dengan para pesaingnya.

Dalam penelitian ini, permasalahan yang akan dibahas adalah menguji apakah metode Trend Bebas yang selama ini digunakan sudah sesuai dengan kondisi perusahaan, serta menentukan metode penyusunan peramalan penjualan BBM yang paling tepat sehingga PT Pertamina (Persero) tetap eksis dalam menghadapi persaingan perusahaan yang sejenis. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data primer berupa data realisasi penjualan BBM periode Januari-Desember 2010 pada PT Pertamina (Persero) Region IV Jateng dan DIY. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara observasi dan wawancara dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada autoritas. Metode analisis yang digunakan adalah Standar Kesalahan Peramalan (SKP).

PT Pertamina (Persero) khususnya bagian BBM Retail membuat perencanaan dan pengendalian di bidang penjualan, salah satunya adalah membuat peramalan penjualan (forecasting). Peramalan penjualan ini disusun dengan menggunakan metode Trend Bebas. Metode Trend Bebas untuk peramalan penjualan ini bersifat sangat subjektif karena dipengaruhi oleh pendapat atau perasaan orang yang membuat peramalan tersebut. Untuk itu perlu dibandingkan metode penyusunan peramalan penjualan bahan bakar minyak yang selama ini digunakan oleh perusahaan dengan menggunakan metode yang lain yaitu metode Least Square dan Kuadratik karena kedua metode tersebut merupakan bagian dari metode peramalan penjualan (forecasting) yang bersifat kuantitatif yang perhitungannya lebih didasarkan pada perhitungan-perhitungan data stastistik sehingga unsure subjektif dapat dihilangkan dan peramalan penjualan (forecasting) yang dihasilkan dapat lebih akurat.

Dari analisis dan perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat diketahui hasil dan kesimpulan bahwa metode peramalan penjualan BBM yang tepat untuk Premium adalah menggunakan Trend Kuadratik, sedangkan untuk Pertamax menggunakan Trend Least Square. Selain itu, dari hasil perhitungan SKP total penjualan BBM, maka dapat ditentukan bahwa metode peramalan (forecasting) BBM menggunakan metode Trend Least Square dan Trend Kuadratik adalah lebih baik serta efektif jika dibanding dengan metode Trend Bebas yang diterapkan perusahaan selama ini.

Kata kunci: peramalan penjualan, anggaran penjualan, metode trend bebas, metode trend kuadratik, metode trend least square, standar kesalahan peramalan

Skripsi Akuntansi - Headline Animator